Bahan Kedap Suara Studio Musik

Sering kali kita dihadapkan pada masalah bahan apakah yang bisa memblok suara studio musik sehingga tidak keluar ruangan? Apakah bahan glasswool, rockwool, greenwool, busa telur adalah bahan yang bisa memblok suara? Mengapa sesudah dipasang hasilnya tidak banyak berubah?

Sering kali kita kesal dan merasa di kerjai oleh kontraktor peredam suara studio musik yang membuat ruang studio namun hasilnya tidak sesuai apa yang kita pikirkan. Nah disini sebetulnya ada banyak kesalahan informasi dan ketidaktahuan kontraktor dan user dalam memilih bahan kedap suara dan bagaiamana bahan kedap suara itu berbeda dengan bahan penyerap suara, termasuk bahan yang beredar dipasaran itu apakah cukup satu lapis glasswool, rockwool, greenwool, busa telur untuk membuat ruangan kedap suara?

Saya mau menjelaskan bahwa membuat ruangan kedap suara studio musik bukan sekedar memasang glaswool, rockwool, busa telur ditutup gypsum dan selesai dan anda berharap tidak ada suara yang keluar. Mengapa kebocoran suara sesuadah dipasang bahan glasswool, rockwool, greenwool, busa telur dan lainnya tidak berubah daya kedapnya?

Menurut Herwin Gunawan dari acourete, ada 3 kesalahan fatal dalam membuat ruang kedap suara studio musik yang banyak dilakukan orang.

3 Kesalahan Umum Insulasi Suara

1. Kesalahan Analisa
Kesalahan yang paling mendasar pada saat memulai pekerjaan insulasi suara adalah tidak melakukan analisa terlebih dahulu atau melakukan analisa yang salah. Faktor – faktor yang perlu di analisa sebelum melakukan tindakan insulasi suara adalah sebagai berikut:
• Menganalisa sumber bunyi yang menganggu darimana asalnya. Bisa ditentukan dari yang paling umum adalah indra pendengaraan, hingga mengunakan alat bantu.
• Mengukur kekuatan suara yang akan di insulasi dengan memakai alat ukur yang telah terlebih dahulu di kalibrasi agar nilai hasil pengukuran dapat dipertanggung jawabkan. Pengukuran tidak direkomendasikan hanya berdasarkan intuisi / feeling seseorang.
• Setelah itu perlu pula diketahui frekuensi suara yang akan di insulasi. Apakah bunyi mendesis sebuah peralatan atau dentuman bass dari sebuah sub woofer?
• Tahapan selanjutnya adalah menganalisa bagaimana suara tersebut merambat dari sumber bunyi ke tempat yang terganggu. Apakah suara merambat melalui media udara: dalam ruang, udara bebas, dan lain – lain atau merambat melalui struktur benda padat seperti tanah, konstruksi bangunan dan lain – lain.
Apabila kita tidak melakukan hal tersebut diatas dan langsung melakukan tindakan pemasangan insulasi suara maka insulasi suara yang di pasangkan tidak akan berfungsi dengan baik atau tambah memperparah masalah yang ada.

2. Kesalahan Pemakaian Bahan
Kesalahan kedua yang umumnya di temukan di lapangan adalah penggunaan bahan yang secara ”mitos” mampu menginsulasi suara yang sangat populer di sebut – sebut oleh masyarakat umum. Berikut adalah beberapa contoh kesalahan dalam penggunaan bahan insulasi suara:
• Penggunaan gipsum dan mineral wool untuk meredam suara drum pada ruang studio musik
• Penggunaan rockwool dan karpet pada dinding studio musik
• Kaca film untuk menginsulasi suara
• Busa telor untuk menginsulasi suara
• Lembaran karet untuk menginsulasi suara
• Gabus (steroform) untuk menginsulasi suara
• Busa untuk menginsulasi suara

Bahan yang di sebutkan diatas tidak efektif untuk menginsulasi suara karena bahan tersebut tidak memiliki massa yang besar. Bahan yang efektik untuk menginsulasi suara adalah bahan dengan massa yang besar sehingga memiliki sound transmission loss yang cukup tinggi dan mampu mengurangi rambatan getaran. Salah satu contoh bahan yang memenuhi syarat tersebut adalah Acourete Mat yang memiliki Sound Transmission Loss yang cukup besar yaitu 17 dB pada frekuensi 125 Hz, 31 db pada 1000 Hz dan 52 dB pada 4000 Hz.

3. Kesalahan Perencanaan Desain dan Sistem Pemasangan
Apabila kita sudah benar dalam menganalisa sumber suara dan pemilihan bahan maka kita masuk ke tahapan membuat perencanaan desain insulasi suara dan sistem pemasangan.
Dari data – data analisa sumber suara, besaran suara, cara merambat suara, data teknis bahan maka kita dapat melakukan perencanaan dan perhitungan sistem insulasi yang benar.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sistem insulasi adalah:
• Sistem Insulasi Getaran yang tidak benar sehingga kurang efektif meredam suara yang merambat pada media padat
• Sistem Peredaman Resonansi yang tidak benar sehingga sistem insulasi kurang bekerja sempurna karena resonansi yang terjadi pada sistem insulasi yang ada
• Aplikasi pekerjaan lapangan yang tidak tepat seperti lupa menutup lubang, atau beberapa kelalaian kecil yang berakibat fatal.
Demikianlah tiga kesalahan yang umumnya diperbuat oleh masyarakat umum dalam hal melakukan pekerjaan insulasi suara.

Menurut saya ada beberapa permasalahan yang membuat hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita, yaitu:

  1. Tidak bisa membedakan antara bahan kedap suara dan bahan penyerap suara.
  2. Kesalahan analisis awal perhitungan tingkat kebisingan suara yang dihitung dengan decibel meter dan ekspektasi bahan yang dipasang.
  3. Kesalahan Struktur bangunan atau ruangan yang dibuat dengan hanya partisi kosong.
  4. Kesalahan dalam teknik pemasangan
  5. Anggaran Biaya yang rendah tapi minta hasil yang tinggi.

Nah sementara itu yang saya simpulkan merupakan faktor yang membuat hasil daya kedap suara anda tidak maksimal. Mari kita bahan satu persatu agar lebih faham.

Perbedaan Bahan Kedap Suara dan Bahan Penyerap Suara

Suara terdiri dari gelombang yang berjalan melalui medium. Beberapa bahan memiliki nilai ketahanan terhadap suara yang bagus sehingga membuat bahan tersebut kedap suara. Udara, misalnya, menawarkan ketahanan terhadap suara kecil oleh karena itu udara merupakan penyumbang utama terhadap suara yang tidak diinginkan di sebuah ruangan. Sumber kebisingan lain yang tidak diinginkan di dalam sebuah ruangan bisa berasal dari getaran. getaran terjadi ketika sebuah gelombang suara perjalanan bolak-balik dari satu objek yang lain. Hal ini dapat terjadi, misalnya, ketika gelombang suara menabrak di salah satu dinding ruangan, terpantul dari dinding itu, dan transfer energi ke dinding seberang.

Bahan kedap suara atau Sound Proofing Material secara fungsional digunakan untuk menghalangi energi suara keluar ruangan atau masuk ke ruangan. Bahan ini diperlukan untuk ruangan-ruangan yang fungsinya tidak boleh diganggu oleh bising dari luar ruangan (misalnya studio rekaman, studio TV, ruang konser, dsb) atau yang fungsinya menghasilkan suara dengan energi yang besar sehingga tidak diinginkan untuk mengganggu mereka yang berada di luar ruangan (ruang Home Theater, ruang Drum, dsb). Ciri utama bahan ini tentu saja tidak boleh menjadi penghantar energi suara (mekanik) yang baik atau dengan kata lain tidak mudah bergetar bila terpapar energi akustik (suara) atau mengubah energi suara tersebut menjadi energi bentuk lain saat melintasinya, atau dengan kata lain sesedikit mungkin meloloskan energi suara yang melewatinya.

Kinerja bahan kedap suara ini akan dipengaruhi oleh frekuensi suara yang memaparinya, dalam artian sebuah bahan dengan ketebalan tertentu akan menjadi bahan kedap suara yang baik di frekuensi tinggi tetapi buruk pada frekuensi rendah, atau sebaliknya. Kalau dibayangkan sebagai sebuah ember, bahan kedap suara adalah ibarat dinding ember yang tidak memiliki kebocoran (air tetap tinggal di dalam ember). Penggunaan bahan ini adalah untuk kebutuhan orang yang berada dalam ruangan sekaligus yang berada di luar ruangan. Besaran akustik yang mewakili kinerja bahan ini adalah Rugi-rugi Transmisi atau Transmission Loss (TL, fungsi frekuensi) dan terkadang diwakili oleh besaran angka tunggal Sound Transmission Classs (STC), atau besaran lain yang sejenis misalnya Rw. Semakin tinggi STC, pada umumnya semakin baik bahan tersebut bekerja menahan energi suara (dengan catatan, spektrum TL nya perlu diperhatikan, karena STC hanya dihitung berdasarkan frekuensi 125 – 4000 Hz, sehingga tidak menunjukkan kinerja di luar range frekuensi tersebut).

Namun STC bukanlah faktor penentu akhir karena stc tidak dapat menghitung atau tidak efektif pada frekuensi rendah. Jadi jangan terlalu mengandalkan nilai STC dalam menentukan sistem peredaman suara. Saya telah belajar banyak bahwa nilai STC yang tinggi belum tentu baik dalam menangani peredaman suara pada frekuensi rendah. Karena nilai STC memang dirancang dan ditujukan untuk frekuensi yang berhubungan dengan suara manusia dan bukan untuk musik. Tidak ada nilai standar redaman (yang saya tahu) yang dirancang khusus untuk studio musik atau studio rekaman.

Kedua, lupakan istilah “100% Kedap Suara” pada ruangan, karena tidak ada ruangan yang bisa kedap terhadap suara 100%. Setiap konstruksi peredaman suara akan selalu ada bunyi yang bisa menembusnya/bocor, Tantangan ketika merancang sebuah studio rumah adalah untuk mengetahui seberapa nilai redaman yang anda butuhkan, pada frekuensi berapa bunyi itu menggangu orang disekitarnya, berapa toleransi kebisingan yang dapat diterima oleh lingkungan sekitar dan seberapa keras bunyi itu.

Sebagai contoh, jika anda hanya memainkan biola akustik didalam kamar, dan tinggal sendirian di tengah hutan, jarak tetangga terdekat 120m, 150m dari jalan utama dan tidak didalam Zona terbang pesawat komersial atau jalur kereta api, maka peredaman cukup dengan teknik konstruksi standar tanpa khawatir tentang kebisingan luar mengganggu anda (atau mengganggu orang lain). Satu-satunya hal yang anda harus lakukan adalah memperbaiki akustik ruangan.

Bahan penyerap suara atau Sound Absorbing Material berfungsi untuk mengambil energi suara yang berlebihan di dalam ruangan. Target utamanya adalah, energi pantulan dalam ruangan dikurangi sesuai dengan kebutuhan. Bahan ini digunakan apabila ruangan diinginkan untuk memiliki level waktu dengung sesuai dengan kebutuhan atau ruangan yang diinginkan untuk tidak memiliki energi pantulan yang besar (misalnya studio musik, ruang home theater, ruang bioskop, ruang kelas, ruang seminar, ruang rawat inap, kamar hotel, dsb).

Ada berbagai tipe bahan ini, misalnya tipe bahan berpori (untuk suara dengan frekuensi menengah sampai tinggi), tipe panel (frekuensi menengah-rendah), tipe resonator (frekuensi rendah), tipe perforasi mikro (frekuensi tertentu). Penggunaan bahan ini semata untuk kebutuhan pengguna di dalam ruangan, agar mendapatkan medan suara sesuai dengan fungsi ruang (misalnya ruang bioskop harus memiliki permukaan penyerap yang dominan karena diharapkan pengguna mendengarkan suara langsung saja dari loudspeaker terpasang, sedangkan ruang konser simphony memerlukan bahan penyerap sesedikit mungkin karena diharapkan energi suara dari panggung bertahan selama mungkin tanpa mengurangi intelligibilitynya).

Besaran yang digunakan untuk menunjukkan kinerja bahan ini adalah koefisien absorbsi (alpha), yang memiliki nilai 0- 1, 0 menunjukkan tidak ada energi suara yang diambil oleh bahan, sedangkan 1 menunjukkan seluruh energi suara yang datang ke permukaan bahan akan diambil seluruhnya dan tidak dikembalikan ke ruangan. Bahan yang ada di pasaran memiliki alpha antara 0 dan 1 (fungsi frekuensi tentu saja). Bahan penyerap suara tidak mungkin berdiri sendiri sebagai bahan kedap suara, tetapi bisa dikombinasikan dengan bahan kedap suara untuk meningkatkan kinerja kedap suara, yaitu dalam sistem material multi lapisan (sandwich panel), misalnya double gypsum-double gypsum bisa ditingkatkan kinerja kedapnya dengan menyisipkan rockwool diantara kedua lapisan sehingga menjadi double gypsum-rockwool-rongga udara-double gypsum.

Jadi, kedua jenis bahan akustik tersebut dalam tataran praktisnya digunakan secara bersama-sama, sesuai dengan fungsinya masing-masing, untuk membentuk ruang akustik dengan berbagai fungsinya. contoh: Untuk ruang studio diperlukan sejumlah besar permukaan penyerap suara, sekaligus selubung kedap suara, ruang konser memerlukan sedikit bahan penyerap suara tetapi memerlukan selubung kedap suara yang sangat baik.

note: perlu diingat bahwa dalam sebuah ruangan, kinerja kedap tidak hanya dibebankan kepada salah satu komponen penyusun ruang saja, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh penyusun ruangan (dinding, langit-langit dan lantai) karena suara bisa merambat lewat seluruh komponen penyusun ruang tersebut. Suara bisa bocor lewat dinding, lantai maupun langit-langit. Ingat, sekecil apapun lubang pada ember, akan menyebabkan air keluar dari ember tersebut alias bocor.

Bahan Penyerap Suara memiliki tugas penting didalam mengendalikan medan suara didalam ruangan sesuai dengan fungsi ruangan tersebut. Bahan penyerap suara ini seringkali disebut sebagai material kedap suara, sebuah istilah yang menurut hemat penulis adalah sebuah istilah yang tidak tepat. Dalam sebuah konsep akustik ruangan, harus dibedakan antara fungsi kedap (sound proofing) dan fungsi pengendalian (sound controling). Dalam kedua fungsi, diperlukan bahan penyerap suara ini.

Ada dua tipe utama bahan penyerap suara, yaitu Bahan Penyerap Suara Berpori (Porous Absorber) dan Bahan Penyerap Suara tipe Resonansi (resonant Absorber). Kedua tipe penyerap suara ini berbeda dalam hal mekanisme penyerapan energi suara.

Bahan berpori seperti karpet, korden, foam, glasswool, rockwool, cellulose fiber, dan material lunak lainnya, menyerap energi suara melalui energi gesekan yang terjadi antara komponen kecepatan gelombang suara dengan permukaan materialnya. Bahan penyerap suara tipe ini akan menyerap energi suara lebih besar di frekuensi tinggi.

Berikut adalah hasil testing dari bahan yang beredar dipasaran

Membuat Ruang Kedap Suara Studio Dengan Budget Minim

Setelah kita membahas tentang perbandingan bahan kedap suara rockwool, glasswool, greenwool, busa telur dan mat resin maka kita tahu bahwa hasil yang dihasilkan dari bahan rockwool, glasswool, busa telur dan lainya tingkat kebocorannya cukup tinggi disemua jenis frekuensi namun memang kelebihannya adalah kita bisa membuat studio musik dengan anggaran minim.

Kelebihan dan Kekurangan membuat studio musik dengan bahan rockwool dan glasswool:

Kelebihan:

  1. Bahan mudah didapatkan. dimanapun rockwool dan glasswool adalah bahan yang mudah didapatkan ditoko terdekat
  2. Murah. memang membuat studio musik dengan bahan glasswool dan rockwool terasa ringan dan murah di kantong.
  3. Gampang pemasangannya. Siapapun yang punya kemauan pasti mudah memasang peredam suara rockwool glasswool

Kekurangan:

  1. Daya blokir suara rendah. Hal ini disebabkan karena sebenarnya rockwool glasswool bukan bahan kedap suara tapi bahan penyerap suara. Anda tahukan bedanya diatas?
  2. Gatal dan bisa menyesakan. Bagi sebagian orang yang alergi akan terasa bahwa bau rockwool dan glasswool yang tercium bisa menyebabkan sesak dan gatal dikulit.
  3. Tidak awet. umumnya glasswool dan rockwool umurnya tidak bisa lebih dari 5 tahun karena mudah rusak dan akan hancur lebih dari 5 tahun.

Dalam membuat studio musik baik rekaman maupun latuihan jika anggaran budget anda minim maka menggunakan bahan glasswool, rockwool, dan sejenisnya bisa digunakan, hanya saja anda harus menerima kenyataan jika ternyata tetangga anda masih komplain dan tidak menyukai suara dari studio yang keluar ke ruangannya.

Dalam membuat studio musik dengan glasswool atau rockwool maka tetap ada air space sebagai pemutus energi suara agar tidak menyeberang sepenuhnya ke ruangan lain dan gunakan bahan tambahan yang memiliki nilai stc atau nilai daya kedap suara yang baik seperti gypsum, mdf, karet, karpet dan sejenisnya. Untuk akustik dalam suara sesudah rockwool dan glasswool terpasang gunakan busa telur atau karpet dan sejensinya yang sifatnya menyerap suara agar suara tidak gaung atau bergema yang menyebabkan suara musik anda kurang enak. mudah kan?

Jika anda mau membuat studio musik baik studio rekaman, latihan, studio syuting youtuber dan sejenisnya silahkan hubungi kami. akan kami jelaskan detail seputar bahan yang digunakan, kelebihan dan kekurangnnya dan teknik memasang yang baik dan benarnya. Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *